Resensi Film ROB


Judul Film       : ROB
Sutradara         : Fatimatuz Zahra       
Kategori          : Pelajar (SMKN 2 Pekalongan)
Genre              : Dokumenter

Sumber :https://daerah.sindonews.com/read/1201806/22/siswa-smpn-3-tirto-ujian-nasional-di-tengah-banjir-1493716649

SINOPSIS :
4 Desa di kecamatan Tirto terendam air, banjir ini mulai dari tahun 2014 hingga sekarang namun pernah juga banjir berhenti sesaat, banjir yang tak surut-surut ini akibat ROB yang artinya air laut sedang pasang. Masyarakat disana sangat dirugikan bahkan anak-anak untuk sekolahpun susah.

ISI :
“Pada tahun 2014 itu pernah banjir, waktu itu banjirnya cepat surut krena air hujan. Dan mulai banjir lagi pada Juni 2015 disebabkan oleh hujan dan ROB. Mulai 15 desember hingga sekarang banjirnya gak habis-habis, Bahkan skrg ketinggian airnya bertambah” Ungkapan masyarakat Kecamatan Tirto.

Film ROB ini shooting di berbagai lokasi salah satunya adalah Desa Karang Jompo, mayoritas warga disana adalah buruh, banjir yang sudah dari puasa tahun lalu melanda desa Karang Jompo, hingga kamarpun tergenang oleh air yang kotor. Binatang" peliharaan yang tayang difilm hidup diatas rumah atau di genteng. Menurut warga setempat ketika banjir airnya semakin meluap dan semakin kotor Karena bekas limbah, tak heran banyak ada ular yang masuk ke dalam rumah, penghuni rumahpun kadang takut untuk masuk rumah.

Murid-murid disana kesulitan untuk kelancaran berangkat sekolah, Karena semua jalan tergenang air. Salah satu guru yang diwawancarai mengatakan bahwa sudah pernah mengajukan surat permohonan bantuan kepada pihak Dinas Pendidikan namun respondnya Dinas Pendidikan hanya dapat membantu renovasi serta menyediakan alat-alat belajar. Sayangnya pihak sekolah kekurangan dana untuk meninggikan gedung serta jalan. Pemerintah sempat berjanji akan memberikan 250 Juta untuk menangani masalah banjir ini, namun sama sekali tak terbukti, 3 desa yang merasa kecewapun melakukan aksi unjuk rasa di jalanan.

Syukurnya pemerintah memberikan sepatu boot untuk anak SMP NEGERI 3 TIRTO, Anak sekolah disana setiap hari memakai sepatu boot kadang juga tidak memakai sepatu, murid-murid disana ingin seperti dulu menggunakan sepatu yang apik. SMP N 3 Tirto juga terpaksa mengadakan UN dalam kebanjiran di ruangan kelas, buku-buku perpustakaan banyak rusak Karena lembab. Pelajaran Olahragapun sering ditunda, dalam 1 bulan hanya 1x saja pelajaran olahraga diadakan di lapangan yang kering atau tidak digenangi oleh air.

Warga mengaku sulit mendapatkan air yang bersih, buang air juga susah, warga terpaksa mencuci apapun biasanya menggunakan air banjir tersebut. Waktu lalu di daerah banjir ada warga yang meninggal, mayatnya dibawa ke kuburan menggunakan perahu karet, dan rata-rata mayat disana sudah disiapkan lobang namun tetap ada genangan air disana, terpaksa air di dalam lobang kuburan itu sededot lalu mayatnya diletakkan dan dikubur, selesai dikubur baru selang penyedot tersebut diangkat, menurut warga disana tetap saja mayat akan kebasahan di dalam. Selain itu ada juga seorang guru yang rumahnya terendam banjir, ia stress menghadapi masalah banjir ini lalu pada akhirnya ia meninggal dunia.

Di film ROB ini juga menayangkan kekotoran air disana, meja-meja di sekolah banyak terdapat telur-telur katak. Selain itu sutradara film ini juga menyampaikan bahwa crew film ROB sempat jatuh Karena terpeleset, selalu gatal Karena kualitas air yang kotor, bahkan sering gonta-ganti pakaian juga. Teman sutradara film ini juga sempat dioperasi Karena terkena mata ikan ulah air kotor.

Mayoritas penduduk disana adalah buruh dan petani, sayangnya para petani yang telah kehilangan sawahnya Karena terendam banjir terpaksa berpindah profesi menjadi seorang nelayan, dan ada juga pedagang bakso, jadi warga di 4 Desa di kecamatan Tirto, Pekalongan yaitu Desa jeruk sari, Mulyorejo, Tegaldowo dan Karang Jompo yang “awalnya Agraris menjadi Bahari.” Ungkap sang wanita anggun Maria Ekaristi yang sedang berdiskusi film ROB Bersama sutradaranya.

KELEBIHAN FILM ROB
Kelebihan dari film ini adalah mengangkat masalah yang tak kunjung selesai dari sekarang, dan masalah ini di telinga saya baru, Karena masalah ini sudah lama terjadi namun baru sampai di telinga saya.

KEKURANGAN FILM ROB
Kekurangannya menurut saya adalah suara sekitar ketika wawancara kurang baik, seharusnya crew film meminta warga disana agar tidak rebut.

PENDAPAT SAYA :
Film dokumenter yang mengambil masalah seperti ini harus disebar luaskan, biar tidak film yang negative saja tersebut, film-film yang berkualitas seperti ini seharusnya disebarluaskan menjadi viral, Alangkah baiknya film ini yang viral di internet agar warga neraga Indonesia tahu, maka lebih mudah mendiskusikan solusi masalahnya serta pemerintah lebih mendengar masalah ini.


Komentar