Resensi Film Urut Sewu

Judul Film            : Urut Sewu
Sutradara              : Dewi Nur Aeni
Kategori Film       : Pelajar (SMK N 1 Kebumen, 2016)
Durasi                   : 20 menit
Genre                    : Dokumenter

Sumber : http://www.mongabay.co.id/2015/11/30/kala-lahan-tani-urutsewu-terlibas-lokasi-latihan-tentara-bagian-1/

SINOPSIS :

Tanah adalah tempat bagi kita berjuang hidup, di Urutsewu, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah telah terjadi konflik antara warga dengan TNI, daerah yang berkonflik ini memiliki panjang kurang lebih 22,5 km dan lebar 500 meter dari bibir pantai. Insiden bermula dari penolakan warga sekitar terhadap upaya pemagaran yang dilakukan TNI sepanjang 22,5 kilometer lahan pesisir yang masih dalam status sengketa, dan pada akhirnya warga urutsewu menolak pemagaran yang ingin dilakukan oleh TNI, warga sudah meminta bantuan ke DPRD, Bupati bahkan Gubernur tapi pemerintah tidak merespond, terpaksa warga-warga urutsewu menghalangi TNI untuk melakukan pemagaran, ketika sudah sampai di tempat pemagaran terlihat ada ratusan anggota TNI yang sudah berjaga-jaga membawa senjata laras panjang, tanpa berdialog TNI langsung menyerang warga, akibatnya banyak warga yang terluka bahkan kepala desapun ikut terluka hingga ia dioperasi Karena tangannya patah.

ISI :

Film dokumenter yang berjudul “Urut Sewu” ini mengisahkan tentang konflik antara warga dengan TNI, kronologi masalahnya pada tahun 1982 TNI-AD datang dan ingin meminjam tempat wilayah Urut Sewu untuk latihan/uji coba senjata berat, TNI membuat surat izin peminjaman tempat untuk latihan ke kepala desa, namun lama-kelamaan TNI malah mengklaim tanah tersebut dan ingin menambahkan pagar pembatas, mulai dari sana warga urut sewu menolak keputusan TNI tersebut. Tragedi 16 1 pada 16 April 2011 aksi warga untuk menolak pemagaran semakin panas, petani dan warga setempat menolak atas klaim sepihak TNI pada lahan desa milik mereka dan tindakan pematokan tanah secara sewenang-wenang oleh tentara. Demonstrasi petani dan warga ditanggapi tentara dengan menyerang warga dengan menembak warga serta melakukan tindak kekerasan lainnya.  

Pada Desember 2013 TNI-AD melakukan pemagaran tanah dengan panjang kurang lebih 22,5 km dan lebar 500 meter dari bibir pantai, padahal penolakan ini sudah ditolak keras oleh rakyat hingga rakyat melaporkan ini ke DPRD, bupati bahkan gubernur namun tidak ada respond, untuk membela haknya masyarakat disana tidak takut menghadapi TNI, ketika itu juga TNI kembali melakukan aksi kekerasan yang mengakibatkan banyak warga terluka parah.

Ibu-ibu yang sedang hamil melihat dengan jelas bagaimana aksi kejam TNI memperlakukan warga, ketika itu ibu-ibu hamil yang diwawancarai di dalam film mengatakan bahwa, ia dipanggil oleh kakaknya untuk pergi namun ibu tersebut susah untuk berlari, ibu tersebut melihat langsung bagaimana kejamnya TNI, ia ingin sekali menolong warga yang menjadi korban hanya saja ia bingung harus bagaimana.      Tercatat ada 6 orang yang dilarikan langsung ke RSUD Kebumen waktu itu. Tak hanya warga, Kepala desa pun sempat dipukuli hingga kepalanya terluka hingga dilarikan ke puskesmas

Warga yang diwawancarai di film ini masih punya hak untuk membela tanah kepemilikannya, ia merasa kecewa Karena dari Bupati dulu hingga sekarang, gubernur dulu hingga sekarang, dan dari presiden SBY sampai sekarang tidak ada perubahan, petani masih tetap tegar untuk membela hak kepemilikannya. Warga disana menyatakan tidak takut untuk demo lagi walau ditendang untuk bela tanah air.

Yang paling menyedihkan ketika petani disana telah dirugikan karena tanamannya rusak terkena peluru atau ledakan dari latihan TNI-AD, tak terbayangkan bagaimana sulitnya ekonomi disana, ditambah lagi ada konflik besar namun pemerintah tak mendengar.
“Kembalikan semangkaku pak! Aku perlu memberi makan anak istriku!” Jeritan warga urut sewu.

KELEBIHAN FILM URUT SEWU

Kelebihan dari film ini adalah mengangkat konflik yang belum kelar hingga sekarang, bahkan saya sendiripun tidak tahu ada konflik seperti ini di Indonesia. Film ini juga menayangkan bagaimana video ketika aksi masa, serta menayangkan foto-foto korban, semua itu membuat penonton tidak bosan menonton film ini. Film ini telah menyadarkan kita pentingnya  


KEKURANGAN FILM URUT SEWU

Lebih bagus hasil audio serta visual ketika wawancara dibandingkan tayangan ketika aksi masa.

PENDAPAT SAYA :

Film ini telah mencampur aduk perasaan saya, saya sungguh sedih mengetahui berita ini. Saya hanya berpendapat sederhana, di pengambilan gambar saya rasa sudah baik walaupun ada kurangnya dikit, untuk masalah video demo tersebut kualitasnya beda dengan video waktu wawancana, dan lebih baik film ini terus disebar luaskan agar masyarakat tahu konflik ini, semoga kedepannya pemerintah mendengar jeritan tangis saudara kita di Urut Sewu.

Komentar